Di perbatasan antara kota dan desa, ada sebuah jalan kecil yang selalu ramai. Hiruk pikuk suara pedagang kaki lima bercampur dengan tawa anak-anak yang berlari tanpa alas kaki. Meski kemiskinan mencekik, mereka tetap tertawa seakan lupa bahwa nasi di piring hanyalah setengah porsi.
Di sanalah Fadli hidup. Seorang buruh harian lepas di sebuah toko bangunan, dengan tangan kapalan dan wajah yang selalu bercucuran peluh. Meski hidup keras, semangatnya tak pernah padam. Baginya, menyerah adalah dosa terbesar.
Suatu malam, saat pulang kerja, ia melihat iring-iringan mobil mewah melintas. Lampu sorot mobil menampar wajah-wajah lapar di pinggir jalan. Dari kaca terbuka, terdengar tawa pejabat korup yang dulu pernah ia kenal: Pak Surya, orang yang dulu menjanjikan kesejahteraan desa, tapi malah merampok anggaran hingga warga tak lagi punya harapan.
Hati Fadli terbakar. "Kalau orang seperti dia bisa duduk di kursi kekuasaan, kenapa aku tidak? Aku akan jadi wakil rakyat. Dan aku akan habisi orang-orang seperti dia."
Langkah pertama tidak mudah. Fadli hanya seorang buruh, siapa yang akan percaya padanya? Namun, tekadnya membuat ia berani berbicara di pasar, di warung kopi, bahkan di jalanan yang berdebu. Kata-katanya sederhana, tapi menyentuh hati:
"Kalau kita terus diam, mereka akan terus menindas. Saatnya kita lawan, dengan suara, dengan keberanian."
Dalam perjuangan itu, hadir sahabat lamanya, Alex. Seorang pemuda cerdas, penuh ide, yang setia mendampingi Fadli. Bersama, mereka memimpin demo kecil-kecilan, menghadapi aparat, hingga nama Fadli mulai dikenal.
Orang-orang tertawa dan menangis bersamanya. Ia bukan sekadar buruh, tapi simbol perlawanan.
Waktu berjalan, dan mimpi Fadli terwujud. Dengan suara rakyat kecil, ia berhasil duduk di kursi wakil rakyat. Hari pelantikannya, ia bersumpah dengan suara lantang:
"Aku akan jadi wakilmu, bukan pengkhianatmu!"
Namun kursi empuk dan ruangan ber-AC perlahan menggerogoti hatinya. Godaan datang: proyek pembangunan fiktif, amplop tebal, pesta makan malam dengan gelas kristal.
Alex, yang dulu setia mendampinginya di jalanan, kini tersenyum licik di balik meja. Dialah yang pertama menyodorkan kontrak gelap. "Fadli, inilah cara kita bertahan di dunia politik. Kalau tidak, kita akan dimakan."
Fadli menolak. Awalnya. Tapi lama-lama, ia goyah. Dan pada akhirnya, ia pun jatuh ke lubang yang dulu ia sumpah akan ia tutup. Ia berubah menjadi sosok yang dulu ia benci.
Di jalanan, rakyat kembali turun. Mereka kecewa. Mereka marah. Mereka merasa ditipu.
Dan yang memimpin demo kali ini… adalah Alex.
"Fadli telah jadi sama seperti mereka!" teriak Alex di depan ribuan massa.
Wajah Fadli pucat saat melihat sahabatnya sendiri yang kini berbalik melawan. Pengkhianatan itu menampar lebih keras daripada pukulan rakyat. Ia ingin berteriak, ingin menjelaskan, tapi suaranya hilang di tengah teriakan rakyat.
Malam itu, Fadli duduk sendirian di kursi kantornya. Jendela terbuka, suara rakyat yang berdemo terdengar jelas. Di meja, ada dua benda: setumpuk amplop uang haram… dan sebuah surat pengunduran diri.
Tangannya bergetar. Air matanya jatuh.
"Apakah sifatku telah kalah? Ataukah masih ada jalan kembali?"
Di luar, suara rakyat semakin bising.
Fadli berdiri, menatap bayangan dirinya di kaca.
AI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar